Selasa, 01 Mei 2012






JENIS-JENIS IRAMA JANTUNG YANG BERASAL DARI
SA NODE

Irama sinus yaitu irama jantung yang sumber pacemakernya berasal dari SA node atau Impulsnya berasal dari SA Node, ada beberapa irama yang impulsnya berasal dari SA Node diantaranya :
1.      Normal Sinus Rhytm
2.      Sinus Bradikardi
3.      Sinus Takikardia
4.      Sinus Aritmia
Bahwa ada 3 sumber pusat pacemaker alami yang dimiliki oleh jantung kita yaitu berasal dari SA node, AV node, Furkinje fiber. Ketiga sumber pacemaker alami jantung tersebut akan merefleksikan gambaran EKG yang satu sama lain akan berbeda.

1.      Normal Sinus Rhytm
Ciri Irama Normal Sinus adalah :
•           Irama teratur.
•           Frekwensi jantung (HR) antara 60-100 x/menit.
•           Gel P normal, setiap gel P diikuti gel QRS dan T.
•           Interval PR normal ( 0,12 – 0,20 detik ).
•           Gel QRS normal ( 0,06 – 0,12 detik ).
•           Semua gelombang sama.
           
2.      Sinus Bradikardi
Ciri Irama Sinus Bradikardi
•         Irama   : Teratur
•         Frekwensi HR : Kurang dari 60 x/menit
•         Gel. P  : Normal, setiap gel. P selalu dikuti gel QRS dan T  
•         Interval PR      :           Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
•         Gel. QRS        :           Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
•         Catatan            :           Semua gel. Sama

Yang membedakan antara sinus bradikardi dengan normal sinus rhytm adalah Frekfensi jantungnya. Pada sinus bradikardia frekfensi jantungya kurang dari 60 x/menit, sedangkan ciri yang lainya persis sama dengan normal sinus rhytm. Seringkali kita menemukan pasien dengan frekfensi jantung yang kurang dari 60 x/menit dan bahkan kurang dari 50 x/menit tanpa ada keluhan yang berarti, ini biasanya kita temukan pada jantung olah ragawan atau orang yang melakukan kegiatan olah raga yang teratur seperti para atlit. Jadi siapapun orangnya yang melakukan olah raga secara teratur dan benar, akan didapatkan frekfensi jantung yang kurang dari 60 atau bahkan kurang dari 50 x/menit tanpa adanya keluhan.
Frekfensi jantung yang kurang dari 60 x/menit juga bisa disebabkan oleh beberapa penyebab seperti obat-obatan (digoxin, beta blockers, calcium channel blockers) dan biasanya terjadi setelah pasca serangan jantung dan stroke.

3.      Sinus Takikardi
Ciri-ciri Irama Sinus Takikardi
·         Irama : Teratur
·         Frekwensi HR : 100 – 150 x/menit
·         Gel. P : Normal, setiap gel. P selalu dikuti gel QRS dan T   
·         Interval PR  : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
·         Gel. QRS        : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
·         Catatan : semua gel. Sama

Peningkatan frekfensi jantung pada pasien dengan sinus takikardia biasanya terjadi oleh adanya respon fisiologi dari tubuh terhadap suatu keadaan yang menggangu hemostasis tubuh. Dari sekian banyak penyebab frekfensi jantung melebihi 100 x/menit pada kasus sinus takikardia, ada  beberapa keadaan seperti :
·         Keadaan normal respon : sehabis melakukan aktivitas, kesakitan, demam, stress dan cemas.
·         Hypovolemik
·         Anemia
·         Obat-obatan
·         Gagal jantung
·         Perdarahan
·         Emboli pulmonal dan Distress pernapasan
·         Sepsis
·         Perikarditis, dll

4.      Sinus Aritmia
Ciri-ciri :
·         Irama   : Tidak teratur
·         Frekwensi HR : Biasanya antara 60 – 100             x/menit
·         Gel. P  : Normal, setiap gel. P selalu dikuti gelombang QRS dan T  
·         Interval PR : Normal ( 0,12 – 0,20 detik )
·         Gel. QRS : Normal ( 0,06 – 0,12 detik )
·         Catatan : Semua gel. Sama
·         Catatan : Normal pada orang muda, akibat pengaruh pola pernafasan, meningkat selama inspirasi dan menurun pada fase ekspirasi




DAFTAR PUSTAKA

1.      Surya Dharma, Sistematika interprestasi EKG : Pedoman praktis, Jakarta : EGC, 2009.
2.      Indonesian Heart Association Jakarta Branch (PERKI Jaya), Buku Panduan Kursus Elektrokardiografi, Jakarta.
3.      Bidang Pendidikan dan Pelatihan, Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh darah Nasional Harapan Kita, Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, edisi I, Jakarta: 2001.